Monday, February 24, 2020

makalah " Kontrol Diri, Prasangka Baik,dan Persaudaraan" Kelompok An-Nur X MIPA 4



(40) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ(39) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya : “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (Q.S. An-Najm/53: 39-40)”
MAKALAH
KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN
Disusun guna memenuhi tugas penilaian presentasi dalam pelajaran pendidikan Agama Islam

Disusun oleh :
Kelompok An-Nur
Ketua : Rifki Izza Syauqi (29)
Anggota:
Afrina Maritza Kurniawan (2)
Mochamad Raihan (14)
Muhammad Ferdyansyah (18)
Mutia Ramadani Hidayah (20)

Guru pembimbing:
H. Pringgondani, S.Mn., S.Pd., M.Pd
PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH MENENGAH ATAS 90 JAKARTA SELATAN 2019/2020

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulilah segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua yang berupa ilmu dan amal, sehingga kita senantiasa berada dalam genggaman-Nya dengan penuh kepasrahan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang pencerah alam semesta dengan cahaya keimanan. Yakni dengan kehadiran baginda Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita dari alam kebodohan hingga ke alam yang penuh ilmu pengetahuan ini.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak H. Pringgondani, S.Mn,. S.Pd,. M.Pd selaku dosen mata kuliah “ Pengantar Studi Islam ” yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini. Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan kami bantuan baik berupa material maupun spiritual.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca untuk dijadikan pedoman dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Harapan kami semoga makalah “ Kontrol Diri, Prasangaka Baik, dan Persaudaraan ” yang kami susun ini menjadi suatu ilmu yang bermanfaat. Amiinn ...
Wassalamualaikum Wr. Wb.

                                                                                                               Jakarta, 3 Februari 2020
             



                                                                                                                          Kelompok An-Nur




i

DAFTAR IS

KATA PENGANTAR......................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang  ...................................................................................................................1
B.        Rumusan Masalah ...............................................................................................................2
C.        Tujuan  ................................................................................................................................2 
BAB II PEMBAHASAN
A.        Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 ...................................3
            ,Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12
B.        Konsep Kontrol Diri............................................................................................................9
C.        Konsep Prasangka Baik.......................................................................................................9
D.        Konsep Persaudaraan.........................................................................................................11
E.         Manfaat Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan................................................13
F.         Penerapan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan.............................................14
G.        Hubungan Antara Kualitas Keimanan Dengan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan .........14            Persaudaraan Sesuai Dengan Pesan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 Q.S Al-Hujurat/49: 10 
            dan 12, Serta Hadist Terkait.
BAB III PENUTUP
A.        Kesimpulan  ......................................................................................................................15
B.        Saran  ................................................................................................................................15 






ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Allah swt. menurunkan Al-Qur'an supaya manusia membaca, memahami, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup serta mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an diturunkan untuk membimbing umat manusia ke jalan yang benar, yakni jalan yang diridai oleh Allah swt. Dalam Al-Qur'an terdapat banyak sekali surah, di antaranya adalah surah Al-Anfal dan QS. Al-Hujurāt.
            Dalam surah Al-Anfäl/8: 72 dan QS. Al-Hujurat/49: 10 dibahas tentang kontrol diri (mujahadah an-nafs), persaudaraan (ukhuwah), sedangkan dalam surah Al-Hujurat ayat 12 dibahas tentang perintah menjauhi prasangka buruk (su'uzzan). Tema kontrol diri, persaudaraan, dan perintah menjauhi prasangka buruk sudah menjadi tema umum dalam masyarakat, namun sangat sulit untuk mengamalkannya.
            Manusia dibekali oleh Allah swt. dengan akal pikiran dan ajaran agama Islam, manusia juga diberi nafsu. Akal pikiran dan agama membimbing manusiauntuk menjadi manusia yang berperilaku baik. Sedangkan nafsu, senantiasa mendorong manusia untuk berperilaku lebih. Nafsu baik mendorongnya untuk lebih meningkatkan ketaqwaan, sedangkan nafsu buruk mendorongnya untuk menuju kemaksiatan dan menjauhi ketaqwaan kepada Allah swt.
            Perilaku baik harus dipelajari, diwujudkan, dan dilestarikan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan perilaku buruk harus dihindari. Di antara perilaku baik itu adalah; kontrol diri, persaudaraan dan husnuzzan (prasangka Baik). Al-Qur'an senantiasa mendorong manusia untuk mewujudkan ketiga sikap tersebut.
            Apabila dalam kehidupan sehari-hari manusia telah mampu bersikap seperti tiga sikap yang disebutkan di atas berarti manusia telah menghiasi dirinya dengan akhlakul karimah atau akhlak terpuji. Mereka diangkat derajatnya oleh Allah swt. menjadi manusia yang terpuji. Siapakah yang akan memuji? Allah swt., manusia, dan alam semesta akan memuji manusia yang berakhlak terpuji. Bentuk pujian Allah swt. adalah Allah swt. semakin mencintainya. Bentuk pujian manusia adalah manusia semakin simpatik dan cinta kepada orang yang berakhlak terpuji. Manusia seperti inilah yang tergolong sebagai manusia yang terbaik, karena kehadirannya senantiasa memberikan manfaat kepada manusia lain. Sedangkan bentuk pujian alam semesta adalah alam semesta akan mempersembahkan yang terbaik untuk manusia.
           


1
            Sebaliknya apabila manusia bersikap tercela, maka Allah swt., manusia, dan alam pun mencela. Allah swt. membenci hamba-Nya yang berperilaku tercela. Sesama manusia pun merasa terusik, terganggu, bahkan merugi akibat perilaku manusia yang tercela. Alam pun menjadi murka, ditandai dengan berbagai bencana, seperti tanah longsor, banjir, gunung meletus, tsunami, dan sejenisnya yang melanda bumi.
            Mujahadah an-nafs (kontrol diri), ukhuwah (persaudaraan),dan lusnuzzan (prasangka baik) tidak akan datang dengan sendirinya. Sikap tersebut harus dilatih dan dibina secara terus-menerus dengan belajar ilmu agama Islam, berteman dengan orang-orang yang telah mampu mewujudkan ketiga sikap tersebut.
            Mujahadah an-nafs (kontrol diri), ukhuwah (persaudaraan) dan husnuzzan (prasangka baik) memiliki keterkaitan dan manfaat yang sangat menentukan. Sikap persaudaraan akan terwujud kalau manusia telah mampu mengontrol dirinya sendiri dan bersikap husnuzzan. Dengan demikian, persaudaraan sejati akan terwujud.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72  ,Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12 ?
2.      Bagaimana konsep kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
3.      Apa manfaat perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
4.      Seperti apa penerapan perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
5.      Bagaimana hubungan antara kualitas keimanan dengan kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan sesuai dengan pesan Q.S. Al-Anfal/8: 72 Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12, Serta Hadist Terkait ?
C. Tujuan
1.      Mengetahui isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72  ,Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12
2.      Mengetahui konsep kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
3.      Mengetahui manfaat perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
4.      Mengetahui penerapan perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
5.      Mengetahui hubungan antara kualitas keimanan dengan kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan sesuai dengan pesan Q.S. Al-Anfal/8: 72 Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12, Serta Hadist Terkait ?

           



2
BAB 2
PEMBAHASAN

A.        Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 ,Q.S Al-       Hujurat/49: 10 dan 12 .
                        Setiap ayat di dalam Al-Qur'an sangat kaya dengan kandungan nilai-nilai               kehidupan, baik merupakan perintah untuk dilakukan, maupun larangan yang harus      ditinggalkan. Semua isi kandungan Al-Qur'an berfungsi sebagai petunjuk hidup bagi      manusia untuk dipelajari dan dijadikan pedoman hidup sehari-hari.
                        Manusia yang taat kepada seruan kitab suci Al-Qur'an, akan hidup selamat di         dunia dan bahagia di akhirat, karena Allah swt. menjanjikannya surga. Sebaliknya,      manusia yang mempelajari Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkan isinya dalam kehidupan   sehari-hari, hidupnya di dunia akan celaka dan di akhirat memperoleh siksaan api neraka.

1.      Memahami dan menganalisis isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 27
           
Q.S. Al-Anfal/8 : 72

        ِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
          Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al-Anfal/8 :72)



3
                        Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari jalan Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya, dia berkata, "Rasulullah saw. telah mempersaudarakan Zubair bin Awwam dengan Ka'ab bin Malik.                        Zubair berkata, "Pada saat perang Uhud, aku melihat Ka'ab terluka parah. Kemudian, aku berkata, Jika dia mati, dia terputus hubungannya dengan keluarga dan aku akan jadi      pewarisnya.' Kemudian, ayat ini pun turun dan jadilah warisan itu bagi orang mempunyai     tali persaudaraan dan kerabat, bukan berdasarkan yang lainnya," (Lubābun Nuqul). Q.S.    Al-Anfal/8: 72 berisi perintah Allah swt. bagi orang-orang beriman. Perintah tersebut             adalah sebagai berikut.
A. orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah dan mengalami kesulitan dalam           urusan makan, minum, dan tempat tinggal. Maka orang beriman lain yang memiliki            kemampuan wajib memberikan pertolongan

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·         umat islam harus menjadi umat yang kuat
·         umat islam harus mampu mengendalikan diri
B.   terhadap orang-orang beriman di mekkah yang belum hijrah, orang-orang beriman di    Madinah tidak berkewajiban untuk memberikan pertolongan.
C.   di dalam urusan agama, misalnya untuk dakwah islam, jika orang mukmin mekkah yg blm hijrah minta pertolongan kepada orang mukmin Madinah, maka ia harus membantu,         karena sesama umat muslim bersaudara.











4
2.      Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S Al-Hujurat/49: 12

Q.S Al-Hujurat/49: 12

        إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
        Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
         
        Analisis isi kandungan Q.S Al Hujurat/49:12
  1. Diriwayatkan Ibnu Mundzir dari Ibnu Juraij bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Salman Al-Farisi yang makan, kemudian tidur, lalu mendengkur. Orang-orang membicarakannya. Maka dari itu islam melarang umatnya untuk bergunjing dan mengumpat.
  2. Abu Bakar Bin Abu Daud mengetengahkan sebuah hadits di kitab tafsir yang ditulisnya, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Hindun. Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bani Bayyadhah supaya mereka mengawinkan Abu Hindun dengan seorang wanita dari kalangan mereka.
Isi kandungan Q.S Al Hujurat/49:12
A.    Allah memerintahkan kepada umat islam agar selalu bersikap husnuzzan (prasangka baik). Perintah ini sekaligus melarang umat islam untuk bersikap buruk sangka (su’uzzan).

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari 5143 dan Muslim 2563)








5
  1. Sikap Husnuzzan dan Suudzon dapat muncul dalam perilaku manusia.
C.     Untuk menumbuhkan sikap Husnuzzan, umat islam wajib mengembangkan sikap-sikap berikut:  
·                        Menyadari bahwa semua kenikmatan datang dan berasal dari Allah swt.
·                        Menyadari bahwa Allah swt. akan memberikan kenikmatan sesuai jerih
            payah yang dilakukan oleh manusia.
·                        Menyadari bahwa ketika Allah swt. memberikan nikmat kepada seseorang,
            pada saat yang lain Allah swt. juga akan memberikan nikmat kepada
            orang lain yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh.
·                        Memahami manfaat lusnuzzan dan bahaya su’uzzan dalam kehidupan
·                        Memperdalam belajar ilmu agama Islam
·                        Mengembangkan sikap ihsan, artinya menghadirkan Allah swt. dalam
            setiap perilaku sehari-hari.
·                        Berteman dengan orang-orang yang suka husnuzzan dan menjauhkan diri
            dari orang-orang yang suka berbuat su'uzzan.
·                        Kesadaran perilaku yang harus dikembangkan dan yang harus dijauhi
            dalam kehidupan sehari-hari adalah:
NO
Sikap atau Perilaku yang Harus Dikembangkan
Sikap atau Perilaku yang Harus
Dijauhi

1
Mengikat persaudaraan terhadap
saudara seiman dan seagama semata-
mata karena Allah swt.

Mengikat persaudaraan terhadap
saudara seiman dan seagama
2
Ikut bertanggung jawab mendakwahkan
ajaran Islam tanpa terikat oleh ruang
dan waktu

semata-mata karena harta
Hanya bertanggung jawab untuk
mendakwahkan ajaran Islam di
sekitar lingkungan kita

3
Senantiasa membantu saudara seiman
dan seagama yang mengalami kesulitan
ekonomi semata-mata karena Allah
Swt.

Membantu manusia lain yang mengalami kesulitan ekonomi agar dipandang oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang dermawan
4
Menumbuhkan kesadaran dalam hati bahwa kesulitan dan kesedihan saudara seiman dan seagama adalah kesulitan
dan kesedihan kita, schingga langsung
peduli tanpa pengaruh pihak lain

Mengetahui kesulitan dan kesedihan saudara seiman, tetapi membiarkan
5
Selalu berbaik sangka (husnuzzan)
Berburuk sangka (su'uzzan)
6
                                                                        
3.      Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S Al-Hujurat/49: 10

Q.S Al-Hujurat/49: 10

        يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
         
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

        Analisis isi kandungan Q.S Al Hujurat/49:10
A.    memerintahkan agar menghentikan peperangan dan menciptakan perdamaian
B.     memerintahkan agar menghentikan peperangan dan menciptakan perdamaian, karena sesama umat islam adalah bersaudara.
C.     memerintahkan agar melawan orang yang menolak perdamaian, karena sesama umat islam adalah bersaudara, sehingga ketika terjadi permusuhan harus mau untuk berdamai.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)











7
Isi kandungan Q.S Al Hujurat/49:10

A.    Sebagai makhluk sosial, umat Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat terlepas dalam berkomunikasi dengan manusia lain, baik yang beragama Islam, maupun yang non-Islam. Terhadap orang-orang yang non-Islam, umat Islam perlu senantiasa berbuat baik. Sedangkan terhadap sesama muslim yang diikat oleh tali keimanan yang sama, umat Islam harus bersaudara.
B.     Cara bersaudara bagi orang-orang beriman sesuai QS. Al-Hujurat/49: 10, adalah sebagai berikut.
·         Setiap orang yang beriman adalah saudara kita, sehingga kita wajib menghapus batas-batas perbedaan suku, ras, bahasa, budaya, bangsa dan sejenisnya.
·         Terhadap saudara, kita wajib menunaikan hak-haknya secara adil.
·         Saling mendukung, membela, dan melindungi dalam urusan kemanusiaan
·         Terhadap saudara, kita wajib saling membantu dan saling meringankan kesulitan




























8
B.     Konsep Kontrol Diri
            Perilaku atau akhlak manusia menentukan harkat dan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia dikatakan baik apabila perilakunya baik. Sebaliknya, manusia dikatakan tidak baik, apabila perilakunya tidak baik.
            Baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari bisa ditentukan dari bagaimana cara dia mengontrol dirinya sendiri dan keadaan hati masing- masing. Jika manusia itu mampu mengontrol diri dan hatinya dengan baik, maka akan baik pula seluruh perilakunya, sebaliknya, jika manusia itu tidak mampu mengontrol diri dan hatinya maka akan buruk pula seluruh perilakunya.

 


 “Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
            Apabila kita mampu mengontrol diri kita dengan mengikuti perintah agama dan menjauhi larangan-Nya, misalnya dengan tidak mengonsumsi makanan haram, maka hati dan perilaku kita akan baik. Seluruh organ tubuh yang dialiri darah dari makanan dan minuman yang halal, maka darah akan menjadi energi yang mendorong manusia berperilaku baik. Sebaliknya, tubuh manusia yang dialiri darah dari makanan dan minuman yang haram, maka darah akan memicu manusia berperilaku tidak baik. Oleh karena itu, ajaran Islam menyuruh kita untuk makan dan minum dari rezeki yang halal, baik halal zatnya maupun halal dalam proses memperolehnya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
C.    Konsep Prasangka Baik
            Dari QS. Al-Hujurat ayat 12 Allah swt, menyerukan kepada umat Islam agar membangun persaudaraan yang utuh dan harmonis antarsesama umat Islam. Persaudaraan ini akan terwujud dengan menumbuhkan sikap prasangka baik (husnuzan), yaitu dengan cara menjauhkan sikap atau perilaku buruk dalam kehidupan sehari-hari. Di antara sikap atau perilaku buruk yang harus dijauhi tersebut adalah :







9
1. Su'uzzan (Prasangka buruk)
            Su uzzan (prasangka buruk) adalah perasaan penuh curiga terhadap orang lain. Su uzzan merupakan salah satu bentuk akhlak tercela. Hukum bersikap Su’uzzan adalah haram, sehingga wajib dijauhi. Sebaliknya umat Islam wajib menumbuhkan dan membudayakan sikap husnuzzan atau prasangka baik terhadap orang lain dalam kehidupan schari-hari. Karena Allah swt. Akan bersama prasangka hamba-Nya: Dalam hadits qudsi Allah swt. Berfirman
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (H.R. Ibnu Hibban).
            Umat Islam tidak boleh bersikap su'uzzan berkaitan dengan nikmat Allah yang diterima oleh orang lain. Sikap su'uzzan dapat diketahui melalui wajah cemberut, ekspresi tidak suka, ungkapan mencibir, kurang simpati, dan sejenisnya.
            Untuk menumbuh kembangkan sikap husnuzzan dan mengikis sikap Su’uzzan pada diri manusia sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
·         Tekun mempelajari ajaran Islam dan semangat untuk mengamalkan
·         Berteman dengan orang-orang yang suka husnuzzan dan menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berbuat su'uzzan.
·         Menumbuhkan semangat berpikir positif bahwa semua nikmat datang dari Allah melalui usaha maksimal.
·         Sikap su'uzzan dapat menutup datangnya nikmat dari Allah dan justru membuka pintu nikmat yang lebih luas kepada orang yang menjadi sasaran su'uzzan.
·         Memahami betapa besar keutamaan husnuzzan dan bahaya su'uzzan
2. Mencari kesalahan orang lain
            Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Ketidaksempurnaan manusia karena di samping memiliki kelebihan, manusia juga memiliki kekurangan. Bentuk kekurangan itu adalah manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu manusia dilarang mencari kesalahan orang lain, karena perbuatan ini diancam oleh Allah dengan azab dunia dan akhirat.



10

D.    Konsep Persaudaraan
            Ukhuwah atau yang lebih dikenal dengan persaudaraan artinya persahabatan yang erat. Persahabatan yang erat mengandung pengertian perkawanan yang kuat, sehingga tidak mudah lepas/putus.
            Persaudaraan yang erat disebut juga sebagai persaudaraan sejati. Persaudaraan seperti ini tidak didasarkan pada keturunan, suku, bahasa, bentuk fisik, latar belakang keluarga, kedudukan, pangkat, dan derajat. Sebaliknya, persaudaraan ini didasarkan pada hati atau keimanan dan perilaku atau amal perbuatan. Persaudaraan seperti inilah yang perlu dilakukan, sehingga persaudaraan itu bersifat permanen. Allah tidak akan pernah melihat bentuk fisik, harta dan kedudukan manusia, sebaliknya Allah hanya akan melihat hati dan amal perbuatan manusia. Nabi Muhammad saw. bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
            Di dalam melakukan dakwah Islam di Madinah, Nabi Muhammad saw menerapkan beberapa strategi. Salah satu strategi itu adalah mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.
            Strategi ini sangat penting untuk Nabi ketika melakukan dakwah di Madinah, Mengapa ini dipandang sebagai suatu strategi yang sangat penting? Sebagaimana diketahui bahwa Nabi bersama para sahabat dari Makkah datang ke Madinah adalah sebagai pendatang baru. Sebagai pendatang baru, Nabi dan para sahabat memiliki problematika sosial dan ekonomi, sehingga membutuhkan bantuan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup, mata pencarian dan tempat tinggal. Ini semua dilakukan Nabi dengan tujuan utama agar misi dakwah Islam dapat berhasil dengan mudah. Kalaupun ada rintangan, rintangan tersebut tetap memberikan hikmah yang sangat berharga bagi umat Islam.
           


11
            Di dalam melakukan dakwah di Madinah, Nabi Muhammad melakukan strategi dengan mempersaudarakan kaum anshar dengan muhajirin dengan tujuan agar umat islam tidak musah diprovokasi dan di pecah belah karena beberapa alasan, yaitu:
1.      Umat islam bersama nabi ketika melakukan hijrah. Mereka hanya membawa bekal secukupnya karena hijrah ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya Umar Bin Khattab yang melakukan hijrah secara terang-terangan.
2.      Kaum Musyrikin di Madinah masih menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap nabi dan kaum muhajirin. Mereka berpura-pura masuk islam, tetapi tetap menyimpan kekufuran dan berbuat makar.
3.      Kaum Yahudi dari Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah yang selalu membangga-banggakan kebangsaannya, selalu mengejek orang-orang arab yang telah masuk islam dengan ejekan yang menyakitkan.
                Proses persaudaraan tersebut terjadi pertama kali di rumah Anas bin Malik. Pada waktu itu jumlah umat islam berjumlah 90 orang, 45 dari kaum Anshar dan 45 dari kaum Muhajirin. Rasulullah mempersaudarakan mereka dua-dua, satu dari anshar dan satu dari muhajirin .
1. Rasulullah dg Ali bin abi thalib
2. Hamzah bin Abdul muthalib dg Zaid bin Haritsah
3. Abu bakar dg kharijah bin zaid
4. Umar bin khattab dg Itbah bin malik
5. Ja'far bin Abi Thalib dg Muadz bin Jabbal
6. Abdurrahman bin Auf dg Sa'ad bin Rabi'
7. Salman dg Abu Darda
8. Muawiyah bin abu sufyan dg Al-Hatta At-tamimi
9. Mushad bin umair dg Abu Ayyub al-anshari
            Kesamaan islam dan iman sebagai tali pengikat dan perekat persaudaraan, mampu menumbuhkan semangat hidup damai, rukun, saling menolong, dan saling mencintai.







12

E.     Manfaat Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan
            Memiliki sikap atau perilaku terpuji seperti kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan tidak pernah akan sia-sia. Selain mendapat kebahagian dunia dan akhirat, berikut beberapa manfaat dari ketiga sikap tersebut.

        1. Manfaat perilaku kontrol diri
         a. terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa
         b. terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain
         c. terhindar dari sifat egois
         d. terhindar dari sifat sombong
         e. menyehatkan rohani
         
        2. Manfaat perilaku berprasangka baik
        a. terhindar dari sikap iri dan dengki terhadap nikmat yang diperoleh orang lain, karena  sifat tersebut dapat merusak hati
         b. hati menjadi lebih tenang
         c. selalu dapat berpikir positive
         d. mudah bersaudara dengan yang lain
         
        3. Manfaat perilaku persaudaraan
         a. dapat memperbanyak teman, dan saudara
         b. dapat menambah, dan menjalin relasi yang lebih banyak lagi
         c. dapat mempererat jalinan kekeluargaan











13
F.     Penerapan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan

1. Perilaku Kontrol Diri
            Sikap kontrol diri atau mujahadah an nafs pada kehidupan manusia berperan sbg pengendali perilaku yang tidak baik. Sikap kontrol diri atau mujahadah an nafs perlu ditumbuhkan, sehingga di dalam melakukan sesuatu perbuatan didasarkan pada perhitungan antara untung dan ruginya.
            Hal demikian sesuai dengan pesan Rasulullah SAW, bahwa orang yang pandai adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya.

        2. Perilaku Prasangka Baik
                    Perilaku husnuzzan perlu dilakukan dan diamalkan setiap hari. Agar terbiasa dengan perilaku husnuzzan kita harus berlatih terus-menerus. Mulailah menerapkan perilaku husnuzzan ketika ditimpa musibah, yakni dengan selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita.
         
        3. Perilaku Persaudaraan
                    Ukhuwah (persaudaraan) merupakan kekayaan manusia yang sangat mahal. Ukhuwah merupakan anugerah Allah yang tidak terhingga dan kenikmatan yang tidak dapat diukur oleh materi.
        Penerapan sikap Ukhuwah bisa dimulai dengan menjauhkan diri dari perselisihan, pertikaian, dan permusuhan apalagi tawuran terhadap sesama teman. Umat islam wajib memperbanyak dan mempererat tali persaudaraan.


G.    Hubungan Antara Kualitas Keimanan Dengan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan Sesuai Dengan Pesan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 Q.S Al-Hujurat/49: 10 
dan 12, Serta Hadist Terkait.

            Umat islam yang memiliki tingkat keimanan yang kuat , maka kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraannya juga semakin kuat. Sebaliknya , keimanan umat islam yang lemah, sangat berkaitan terhadap tingkat kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraan juga menjadi lemah. Oleh karena itu umat islam harus terus meningkatkan keimanan. Karena keimanan berbanding lurus dengan amal kehidupan.





14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan 
            Sebagai makhluk sosial, umat Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat terlepas dalam berkomunikasi dengan manusia lain, baik yang beragama Islam, maupun yang non-Islam. Terhadap orang-orang yang non-Islam, umat Islam perlu senantiasa berbuat baik. Sedangkan terhadap sesama muslim yang diikat oleh tali keimanan yang sama, umat Islam harus bersaudara, sehingga kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama saudara seiman.Untuk menumbuhkan sikap persaudaraan, kita diwajibkan mampu mengontrol diri, berprasangka baik (husnuzzan), dilarang berprasangka buruk (su'uzzan), dan dilarang menggunjing (gibah), agar tercipta hubungan yang harmonis antar umat beragama.
            Selain sikap persaudaraan, kita juga harus mengembangkan sikap ihsan sebagai bentuk implementasi kontrol diri sehingga kita dapat bersikap dan menyadari bahwa semua tindakan yang dilakukan selalu diawasi Allah swt. Perilaku atau akhlak manusia akan menentukan harkat dan martabatnya di dalam kehidupan sehari-hari.

B. Saran
           Sebagai umat islam, kita harus terus meningkatkan keimanan, salah satu cara meningkatkan keimanan kita dengan cara mengontrol diri, berprasangka baik, dan mempererat persaudaraan kesesama umat beragama, serta menjauhkan diri dari berburuk sangka dan menciptakan perpecahan. Semakin kuat tingkat keimanan, maka kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraannya juga semakin kuat. Sebaliknya , keimanan umat islam yang lemah, sangat berkaitan terhadap tingkat kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraan juga menjadi lemah. Oleh karena itu umat islam harus terus meningkatkan keimanan. Karena keimanan berbanding lurus dengan amal kehidupan.

 






15