(40) وَأَنَّ
سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ(39) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya : “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang
telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (Q.S. An-Najm/53: 39-40)”
MAKALAH
KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN
Disusun guna memenuhi tugas
penilaian presentasi dalam pelajaran pendidikan Agama Islam
Disusun oleh :
Kelompok An-Nur
Ketua : Rifki Izza Syauqi (29)
Anggota:
Afrina Maritza Kurniawan (2)
Mochamad Raihan (14)
Muhammad Ferdyansyah (18)
Mutia Ramadani Hidayah (20)
Guru pembimbing:
H. Pringgondani,
S.Mn., S.Pd., M.Pd
PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH MENENGAH ATAS 90 JAKARTA SELATAN 2019/2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulilah segala
puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua yang berupa ilmu dan amal, sehingga
kita senantiasa berada dalam genggaman-Nya dengan penuh kepasrahan. Sholawat
dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang pencerah alam semesta
dengan cahaya keimanan. Yakni dengan kehadiran baginda Nabi Muhammad SAW. yang
telah membawa kita dari alam kebodohan hingga ke alam yang penuh ilmu
pengetahuan ini.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak H. Pringgondani, S.Mn,. S.Pd,. M.Pd
selaku dosen mata kuliah “ Pengantar
Studi Islam ” yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun
makalah ini. Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan kami bantuan baik
berupa material maupun spiritual.
Kami menyadari
bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca
untuk dijadikan pedoman dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Harapan kami semoga
makalah “ Kontrol Diri, Prasangaka Baik, dan Persaudaraan ” yang kami susun
ini menjadi suatu ilmu yang bermanfaat. Amiinn ...
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 3 Februari 2020
Kelompok An-Nur
i
DAFTAR IS
KATA
PENGANTAR......................................................................................................................i
DAFTAR
ISI...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
...................................................................................................................1
B. Rumusan
Masalah
...............................................................................................................2
C. Tujuan
................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Memahami
dan Menganalisis isi Kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 ...................................3
,Q.S
Al-Hujurat/49: 10 dan 12
B. Konsep
Kontrol Diri............................................................................................................9
C. Konsep
Prasangka Baik.......................................................................................................9
D. Konsep
Persaudaraan.........................................................................................................11
E. Manfaat
Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan................................................13
F. Penerapan
Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan.............................................14
G. Hubungan
Antara Kualitas Keimanan Dengan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan .........14 Persaudaraan Sesuai Dengan Pesan
Q.S. Al-Anfal/8 : 72 Q.S Al-Hujurat/49: 10
dan
12, Serta Hadist Terkait.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
......................................................................................................................15
B. Saran
................................................................................................................................15
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah swt. menurunkan Al-Qur'an
supaya manusia membaca, memahami, dan menjadikan
Al-Qur'an sebagai pedoman hidup serta mengamalkan isi kandungannya dalam
kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an diturunkan untuk membimbing umat
manusia ke jalan yang benar, yakni jalan yang diridai oleh Allah swt. Dalam
Al-Qur'an terdapat banyak sekali surah, di antaranya adalah surah Al-Anfal dan
QS. Al-Hujurāt.
Dalam
surah Al-Anfäl/8: 72 dan QS. Al-Hujurat/49: 10 dibahas tentang kontrol diri (mujahadah an-nafs),
persaudaraan (ukhuwah), sedangkan dalam surah
Al-Hujurat ayat 12 dibahas tentang perintah menjauhi prasangka buruk
(su'uzzan). Tema kontrol diri, persaudaraan, dan
perintah menjauhi prasangka buruk sudah menjadi tema umum dalam
masyarakat, namun sangat sulit untuk mengamalkannya.
Manusia
dibekali oleh Allah swt. dengan akal pikiran dan ajaran agama Islam, manusia juga
diberi nafsu. Akal pikiran dan agama membimbing manusiauntuk menjadi manusia
yang berperilaku baik. Sedangkan nafsu, senantiasa mendorong manusia
untuk berperilaku lebih. Nafsu baik mendorongnya untuk lebih meningkatkan
ketaqwaan, sedangkan nafsu buruk mendorongnya untuk menuju kemaksiatan
dan menjauhi ketaqwaan kepada Allah swt.
Perilaku
baik harus dipelajari, diwujudkan, dan dilestarikan oleh manusia dalam kehidupan
sehari-hari, sedangkan perilaku buruk harus dihindari. Di antara perilaku baik itu
adalah; kontrol diri, persaudaraan dan husnuzzan (prasangka Baik). Al-Qur'an
senantiasa mendorong manusia untuk mewujudkan ketiga sikap tersebut.
Apabila
dalam kehidupan sehari-hari manusia telah mampu bersikap seperti tiga sikap yang
disebutkan di atas berarti manusia telah menghiasi dirinya dengan akhlakul karimah
atau akhlak terpuji. Mereka diangkat derajatnya oleh Allah swt. menjadi manusia
yang terpuji. Siapakah yang akan memuji? Allah swt., manusia, dan alam semesta
akan memuji manusia yang berakhlak terpuji. Bentuk pujian Allah swt. adalah
Allah swt. semakin mencintainya. Bentuk pujian manusia adalah manusia semakin
simpatik dan cinta kepada orang yang berakhlak terpuji. Manusia seperti inilah yang
tergolong sebagai manusia yang terbaik, karena kehadirannya senantiasa
memberikan manfaat kepada manusia lain. Sedangkan bentuk pujian alam semesta adalah
alam semesta akan mempersembahkan yang terbaik untuk manusia.
1
Sebaliknya
apabila manusia bersikap tercela, maka Allah swt., manusia, dan alam pun
mencela. Allah swt. membenci hamba-Nya yang berperilaku tercela. Sesama manusia
pun merasa terusik, terganggu, bahkan merugi akibat perilaku manusia yang
tercela. Alam pun menjadi murka, ditandai dengan berbagai bencana, seperti
tanah longsor, banjir, gunung meletus, tsunami, dan sejenisnya yang melanda
bumi.
Mujahadah
an-nafs (kontrol diri), ukhuwah (persaudaraan),dan lusnuzzan (prasangka baik)
tidak akan datang dengan sendirinya. Sikap tersebut harus dilatih dan dibina
secara terus-menerus dengan belajar ilmu agama Islam, berteman dengan
orang-orang yang telah mampu mewujudkan ketiga sikap tersebut.
Mujahadah
an-nafs (kontrol diri), ukhuwah (persaudaraan) dan husnuzzan (prasangka baik)
memiliki keterkaitan dan manfaat yang sangat menentukan. Sikap persaudaraan
akan terwujud kalau manusia telah mampu mengontrol dirinya sendiri dan bersikap
husnuzzan. Dengan demikian, persaudaraan sejati akan terwujud.
B. Rumusan Masalah
1. Apa isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72
,Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12 ?
2. Bagaimana konsep kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
3. Apa manfaat perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
4. Seperti apa penerapan perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan
persaudaraan ?
5. Bagaimana hubungan antara kualitas keimanan dengan kontrol diri, prasangka
baik, dan persaudaraan sesuai dengan pesan Q.S. Al-Anfal/8: 72 Q.S
Al-Hujurat/49: 10 dan 12, Serta Hadist Terkait ?
C. Tujuan
1. Mengetahui isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 ,Q.S Al-Hujurat/49: 10 dan 12
2. Mengetahui konsep kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan ?
3. Mengetahui manfaat perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan
?
4. Mengetahui penerapan perilaku kontrol diri, prasangka baik, dan
persaudaraan ?
5. Mengetahui hubungan antara kualitas keimanan dengan kontrol diri, prasangka
baik, dan persaudaraan sesuai dengan pesan Q.S. Al-Anfal/8: 72 Q.S
Al-Hujurat/49: 10 dan 12, Serta Hadist Terkait ?
2
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Memahami dan Menganalisis
isi Kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 ,Q.S Al- Hujurat/49:
10 dan 12 .
Setiap ayat di dalam Al-Qur'an sangat kaya dengan kandungan
nilai-nilai kehidupan, baik
merupakan perintah untuk dilakukan, maupun larangan yang harus ditinggalkan. Semua isi kandungan Al-Qur'an
berfungsi sebagai petunjuk hidup bagi manusia
untuk dipelajari dan dijadikan pedoman hidup sehari-hari.
Manusia yang taat kepada
seruan kitab suci Al-Qur'an, akan hidup selamat di dunia dan bahagia di akhirat, karena Allah swt.
menjanjikannya surga. Sebaliknya, manusia
yang mempelajari Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari, hidupnya di dunia akan celaka dan
di akhirat memperoleh siksaan api neraka.
1.
Memahami dan menganalisis isi kandungan Q.S. Al-Anfal/8 : 27
Q.S.
Al-Anfal/8 : 72
ِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا
وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ
يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya
pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan
pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain
lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum
berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka,
sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan
kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan
kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al-Anfal/8 :72)
3
Ibnu Sa'ad meriwayatkan
dari jalan Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya, dia berkata, "Rasulullah saw. telah mempersaudarakan Zubair bin Awwam dengan
Ka'ab bin Malik. Zubair
berkata, "Pada saat perang Uhud, aku melihat Ka'ab terluka parah.
Kemudian, aku berkata, Jika dia mati, dia
terputus hubungannya dengan keluarga dan aku akan jadi pewarisnya.' Kemudian, ayat ini pun turun dan jadilah warisan
itu bagi orang mempunyai tali
persaudaraan dan kerabat, bukan berdasarkan yang lainnya," (Lubābun
Nuqul). Q.S. Al-Anfal/8: 72 berisi
perintah Allah swt. bagi orang-orang beriman. Perintah tersebut adalah sebagai berikut.
A.
orang-orang yang
sedang berjuang di jalan Allah dan mengalami kesulitan dalam urusan makan, minum, dan tempat
tinggal. Maka orang beriman lain yang memiliki kemampuan
wajib memberikan pertolongan
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ
وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah
seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
·
umat islam harus menjadi umat yang kuat
·
umat islam harus mampu mengendalikan diri
B.
terhadap orang-orang beriman di mekkah yang
belum hijrah, orang-orang beriman di Madinah
tidak berkewajiban untuk memberikan pertolongan.
C.
di dalam urusan agama, misalnya untuk dakwah
islam, jika orang mukmin mekkah yg blm
hijrah minta pertolongan kepada orang mukmin Madinah, maka ia harus membantu, karena sesama umat muslim bersaudara.
4
2.
Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S Al-Hujurat/49: 12
Q.S
Al-Hujurat/49: 12
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Analisis isi
kandungan Q.S Al Hujurat/49:12
- Diriwayatkan Ibnu Mundzir dari Ibnu Juraij
bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Salman Al-Farisi yang makan,
kemudian tidur, lalu mendengkur. Orang-orang membicarakannya. Maka dari
itu islam melarang umatnya untuk bergunjing dan mengumpat.
- Abu Bakar Bin Abu Daud mengetengahkan sebuah
hadits di kitab tafsir yang ditulisnya, bahwa ayat ini diturunkan
berkenaan dengan Abu Hindun. Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bani
Bayyadhah supaya mereka mengawinkan Abu Hindun dengan seorang wanita dari
kalangan mereka.
Isi
kandungan Q.S Al Hujurat/49:12
A. Allah memerintahkan
kepada umat islam agar selalu bersikap husnuzzan (prasangka baik). Perintah ini sekaligus melarang umat islam untuk
bersikap buruk sangka (su’uzzan).
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
bahwasanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka
buruk adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari 5143 dan Muslim 2563)
5
- Sikap
Husnuzzan dan Suudzon dapat muncul dalam perilaku manusia.
C.
Untuk menumbuhkan sikap Husnuzzan, umat islam wajib
mengembangkan sikap-sikap berikut:
·
Menyadari bahwa
semua kenikmatan datang dan berasal dari Allah swt.
·
Menyadari bahwa
Allah swt. akan memberikan kenikmatan sesuai jerih
payah yang
dilakukan oleh manusia.
·
Menyadari bahwa
ketika Allah swt. memberikan nikmat kepada seseorang,
pada saat yang lain Allah swt. juga
akan memberikan nikmat kepada
orang lain yang mau berusaha dengan
sungguh-sungguh.
·
Memahami manfaat
lusnuzzan dan bahaya su’uzzan dalam kehidupan
·
Memperdalam belajar
ilmu agama Islam
·
Mengembangkan sikap
ihsan, artinya menghadirkan Allah swt. dalam
setiap perilaku sehari-hari.
·
Berteman dengan
orang-orang yang suka husnuzzan dan menjauhkan diri
dari orang-orang yang suka berbuat
su'uzzan.
·
Kesadaran perilaku
yang harus dikembangkan dan yang harus dijauhi
dalam kehidupan sehari-hari adalah:
|
NO
|
Sikap atau
Perilaku yang Harus Dikembangkan
|
Sikap atau
Perilaku yang Harus
Dijauhi
|
|
1
|
Mengikat
persaudaraan terhadap
saudara seiman
dan seagama semata-
mata karena Allah
swt.
|
Mengikat
persaudaraan terhadap
saudara seiman
dan seagama
|
|
2
|
Ikut bertanggung
jawab mendakwahkan
ajaran Islam
tanpa terikat oleh ruang
dan waktu
|
semata-mata
karena harta
Hanya bertanggung
jawab untuk
mendakwahkan
ajaran Islam di
sekitar
lingkungan kita
|
|
3
|
Senantiasa
membantu saudara seiman
dan seagama yang
mengalami kesulitan
ekonomi
semata-mata karena Allah
Swt.
|
Membantu manusia
lain yang mengalami
kesulitan ekonomi agar dipandang oleh
masyarakat sekitar sebagai orang
yang dermawan
|
|
4
|
Menumbuhkan
kesadaran dalam hati bahwa kesulitan
dan kesedihan saudara seiman dan
seagama adalah kesulitan
dan kesedihan
kita, schingga langsung
peduli tanpa
pengaruh pihak lain
|
Mengetahui
kesulitan dan kesedihan saudara seiman,
tetapi membiarkan
|
|
5
|
Selalu berbaik
sangka (husnuzzan)
|
Berburuk sangka (su'uzzan)
|
6
3.
Memahami dan Menganalisis isi Kandungan Q.S Al-Hujurat/49: 10
Q.S
Al-Hujurat/49: 10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu
dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.
Analisis isi
kandungan Q.S Al Hujurat/49:10
A.
memerintahkan agar menghentikan peperangan dan menciptakan
perdamaian
B.
memerintahkan agar menghentikan peperangan dan menciptakan
perdamaian, karena sesama umat islam adalah bersaudara.
C.
memerintahkan agar melawan orang yang menolak perdamaian,
karena sesama umat islam adalah bersaudara,
sehingga ketika terjadi permusuhan harus mau untuk berdamai.
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ
أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ”
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ”
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah
seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
7
Isi
kandungan Q.S Al Hujurat/49:10
A.
Sebagai makhluk sosial,
umat Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat terlepas dalam berkomunikasi
dengan manusia lain, baik yang beragama Islam, maupun yang non-Islam. Terhadap
orang-orang yang non-Islam, umat Islam perlu senantiasa berbuat baik. Sedangkan
terhadap sesama muslim yang diikat oleh tali keimanan yang sama, umat Islam
harus bersaudara.
B.
Cara bersaudara
bagi orang-orang beriman sesuai QS. Al-Hujurat/49: 10, adalah sebagai berikut.
·
Setiap orang yang
beriman adalah saudara kita, sehingga kita wajib menghapus batas-batas
perbedaan suku, ras, bahasa, budaya, bangsa dan sejenisnya.
·
Terhadap saudara,
kita wajib menunaikan hak-haknya secara adil.
·
Saling mendukung,
membela, dan melindungi dalam urusan kemanusiaan
·
Terhadap saudara,
kita wajib saling membantu dan saling meringankan kesulitan
8
B.
Konsep Kontrol Diri
Perilaku
atau akhlak manusia menentukan harkat dan martabatnya dalam kehidupan
sehari-hari. Manusia dikatakan baik apabila perilakunya baik. Sebaliknya,
manusia dikatakan tidak baik, apabila perilakunya tidak baik.
Baik
buruknya perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari bisa ditentukan dari
bagaimana cara dia mengontrol dirinya sendiri dan keadaan hati masing- masing.
Jika manusia itu mampu mengontrol diri dan hatinya dengan baik, maka akan baik
pula seluruh perilakunya, sebaliknya, jika manusia itu tidak mampu mengontrol
diri dan hatinya maka akan buruk pula seluruh perilakunya.
![]() |
![]() |
“Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang
dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan
dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Apabila
kita mampu mengontrol diri kita dengan mengikuti perintah agama dan menjauhi
larangan-Nya, misalnya dengan tidak mengonsumsi makanan haram, maka hati dan
perilaku kita akan baik. Seluruh organ tubuh yang dialiri darah dari makanan
dan minuman yang halal, maka darah akan menjadi energi yang mendorong manusia
berperilaku baik. Sebaliknya, tubuh manusia yang dialiri darah dari makanan dan
minuman yang haram, maka darah akan memicu manusia berperilaku tidak baik. Oleh
karena itu, ajaran Islam menyuruh kita untuk makan dan minum dari rezeki yang
halal, baik halal zatnya maupun halal dalam proses memperolehnya.
C.
Konsep Prasangka Baik
Dari QS. Al-Hujurat ayat 12 Allah
swt, menyerukan kepada umat Islam agar membangun persaudaraan yang utuh dan
harmonis antarsesama umat Islam. Persaudaraan ini akan terwujud dengan
menumbuhkan sikap prasangka baik (husnuzan), yaitu dengan cara menjauhkan sikap
atau perilaku buruk dalam kehidupan sehari-hari. Di antara sikap atau perilaku
buruk yang harus dijauhi tersebut adalah :
9
1. Su'uzzan (Prasangka buruk)
Su uzzan
(prasangka buruk) adalah perasaan penuh curiga terhadap orang lain. Su uzzan
merupakan salah satu bentuk akhlak tercela. Hukum bersikap Su’uzzan adalah
haram, sehingga wajib dijauhi. Sebaliknya umat Islam wajib menumbuhkan dan
membudayakan sikap husnuzzan atau prasangka baik terhadap orang lain dalam
kehidupan schari-hari. Karena Allah swt. Akan bersama prasangka hamba-Nya:
Dalam hadits qudsi Allah swt. Berfirman
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (H.R.
Ibnu Hibban).
Umat Islam tidak boleh bersikap
su'uzzan berkaitan dengan nikmat Allah yang diterima oleh orang lain. Sikap
su'uzzan dapat diketahui melalui wajah cemberut, ekspresi tidak suka, ungkapan
mencibir, kurang simpati, dan sejenisnya.
Untuk menumbuh kembangkan sikap
husnuzzan dan mengikis sikap Su’uzzan pada diri manusia sebagaimana telah
disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut.
·
Tekun mempelajari ajaran Islam dan semangat untuk
mengamalkan
·
Berteman dengan orang-orang yang suka husnuzzan dan
menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berbuat su'uzzan.
·
Menumbuhkan semangat berpikir positif bahwa semua nikmat
datang dari Allah melalui usaha maksimal.
·
Sikap su'uzzan dapat menutup datangnya nikmat dari Allah dan
justru membuka pintu nikmat yang lebih luas kepada orang yang menjadi sasaran
su'uzzan.
·
Memahami betapa besar keutamaan husnuzzan dan bahaya
su'uzzan
2. Mencari kesalahan orang lain
Manusia adalah makhluk yang tidak
sempurna. Ketidaksempurnaan manusia karena di samping memiliki kelebihan,
manusia juga memiliki kekurangan. Bentuk kekurangan itu adalah manusia
merupakan tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu manusia dilarang mencari
kesalahan orang lain, karena perbuatan ini diancam oleh Allah dengan azab dunia
dan akhirat.
10
D.
Konsep Persaudaraan
Ukhuwah atau yang lebih dikenal dengan persaudaraan
artinya persahabatan yang erat. Persahabatan yang erat mengandung pengertian
perkawanan yang kuat, sehingga tidak mudah lepas/putus.
Persaudaraan yang erat disebut juga sebagai persaudaraan
sejati. Persaudaraan seperti ini tidak didasarkan pada keturunan, suku, bahasa,
bentuk fisik, latar belakang keluarga, kedudukan, pangkat, dan derajat.
Sebaliknya, persaudaraan ini didasarkan pada hati atau keimanan dan perilaku
atau amal perbuatan. Persaudaraan seperti inilah yang perlu dilakukan, sehingga
persaudaraan itu bersifat permanen. Allah tidak akan pernah melihat bentuk
fisik, harta dan kedudukan manusia, sebaliknya Allah hanya akan melihat hati
dan amal perbuatan manusia. Nabi Muhammad saw. bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu
Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan
tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR.
Muslim no. 2564).
Di dalam melakukan dakwah Islam di
Madinah, Nabi Muhammad saw menerapkan beberapa strategi. Salah satu strategi
itu adalah mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.
Strategi ini sangat penting untuk
Nabi ketika melakukan dakwah di Madinah, Mengapa ini dipandang sebagai suatu
strategi yang sangat penting? Sebagaimana diketahui bahwa Nabi bersama para sahabat
dari Makkah datang ke Madinah adalah sebagai pendatang baru. Sebagai pendatang
baru, Nabi dan para sahabat memiliki problematika sosial dan ekonomi, sehingga
membutuhkan bantuan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup, mata pencarian
dan tempat tinggal. Ini semua dilakukan Nabi dengan tujuan utama agar misi
dakwah Islam dapat berhasil dengan mudah. Kalaupun ada rintangan, rintangan
tersebut tetap memberikan hikmah yang sangat berharga bagi umat Islam.
11
Di dalam melakukan dakwah di
Madinah, Nabi Muhammad melakukan strategi dengan mempersaudarakan kaum anshar
dengan muhajirin dengan tujuan agar umat islam tidak musah diprovokasi dan di
pecah belah karena beberapa alasan, yaitu:
1.
Umat islam bersama nabi
ketika melakukan hijrah. Mereka hanya membawa bekal secukupnya karena hijrah
ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya Umar Bin Khattab yang melakukan
hijrah secara terang-terangan.
2.
Kaum Musyrikin di Madinah
masih menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap nabi dan kaum muhajirin.
Mereka berpura-pura masuk islam, tetapi tetap menyimpan kekufuran dan berbuat
makar.
3.
Kaum Yahudi dari Bani
Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah yang selalu membangga-banggakan
kebangsaannya, selalu mengejek orang-orang arab yang telah masuk islam dengan
ejekan yang menyakitkan.
Proses persaudaraan
tersebut terjadi pertama kali di rumah Anas bin Malik. Pada waktu itu jumlah
umat islam berjumlah 90 orang, 45 dari kaum Anshar dan 45 dari kaum Muhajirin. Rasulullah mempersaudarakan mereka dua-dua, satu dari
anshar dan satu dari muhajirin .
1. Rasulullah dg Ali bin abi thalib
2. Hamzah bin Abdul muthalib dg Zaid bin Haritsah
3. Abu bakar dg kharijah bin zaid
4. Umar bin khattab dg Itbah bin malik
5. Ja'far bin Abi Thalib dg Muadz bin Jabbal
6. Abdurrahman bin Auf dg Sa'ad bin Rabi'
7. Salman dg Abu Darda
8. Muawiyah bin abu sufyan dg Al-Hatta At-tamimi
9. Mushad bin umair dg Abu Ayyub al-anshari
2. Hamzah bin Abdul muthalib dg Zaid bin Haritsah
3. Abu bakar dg kharijah bin zaid
4. Umar bin khattab dg Itbah bin malik
5. Ja'far bin Abi Thalib dg Muadz bin Jabbal
6. Abdurrahman bin Auf dg Sa'ad bin Rabi'
7. Salman dg Abu Darda
8. Muawiyah bin abu sufyan dg Al-Hatta At-tamimi
9. Mushad bin umair dg Abu Ayyub al-anshari
Kesamaan islam dan iman sebagai tali pengikat dan perekat
persaudaraan, mampu menumbuhkan semangat hidup damai, rukun, saling menolong,
dan saling mencintai.
12
E.
Manfaat Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan
Memiliki sikap atau
perilaku terpuji seperti kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan tidak
pernah akan sia-sia. Selain mendapat kebahagian dunia dan akhirat, berikut
beberapa manfaat dari ketiga sikap tersebut.
1. Manfaat perilaku
kontrol diri
a. terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa
b. terhindar dari perbuatan yang merugikan
diri sendiri dan orang lain
c. terhindar dari sifat egois
d. terhindar dari sifat sombong
e. menyehatkan rohani
2. Manfaat perilaku
berprasangka baik
a. terhindar dari sikap iri dan
dengki terhadap nikmat yang diperoleh orang lain, karena sifat tersebut dapat merusak hati
b. hati menjadi lebih tenang
c. selalu dapat berpikir positive
d. mudah bersaudara dengan yang lain
3. Manfaat perilaku
persaudaraan
a. dapat memperbanyak teman, dan saudara
b. dapat menambah, dan menjalin relasi yang
lebih banyak lagi
c. dapat mempererat jalinan kekeluargaan
13
F.
Penerapan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan
1. Perilaku Kontrol Diri
Sikap kontrol diri atau mujahadah an
nafs pada kehidupan manusia berperan sbg pengendali perilaku yang tidak baik.
Sikap kontrol diri atau mujahadah an nafs perlu ditumbuhkan, sehingga di dalam
melakukan sesuatu perbuatan didasarkan pada perhitungan antara untung dan
ruginya.
Hal demikian sesuai dengan pesan
Rasulullah SAW, bahwa orang yang pandai adalah orang yang mengevaluasi dirinya
sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang
lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya.
2. Perilaku
Prasangka Baik
Perilaku husnuzzan perlu dilakukan
dan diamalkan setiap hari. Agar terbiasa dengan perilaku husnuzzan kita harus
berlatih terus-menerus. Mulailah menerapkan perilaku husnuzzan ketika ditimpa
musibah, yakni dengan selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa
kita.
3. Perilaku
Persaudaraan
Ukhuwah (persaudaraan) merupakan
kekayaan manusia yang sangat mahal. Ukhuwah merupakan anugerah Allah yang tidak
terhingga dan kenikmatan yang tidak dapat diukur oleh materi.
Penerapan sikap
Ukhuwah bisa dimulai dengan menjauhkan diri dari perselisihan, pertikaian, dan
permusuhan apalagi tawuran terhadap sesama teman. Umat islam wajib memperbanyak
dan mempererat tali persaudaraan.
G.
Hubungan Antara Kualitas Keimanan Dengan Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan
Persaudaraan Sesuai Dengan Pesan Q.S. Al-Anfal/8 : 72 Q.S Al-Hujurat/49:
10
dan 12,
Serta Hadist Terkait.
Umat islam yang memiliki
tingkat keimanan yang kuat , maka kontrol diri, prasangka baik dan
persaudaraannya juga semakin kuat. Sebaliknya , keimanan umat islam yang lemah,
sangat berkaitan terhadap tingkat kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraan
juga menjadi lemah. Oleh karena itu umat islam harus terus meningkatkan
keimanan. Karena keimanan berbanding lurus dengan amal kehidupan.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai makhluk sosial, umat Islam dalam kehidupan
sehari-hari tidak dapat terlepas dalam berkomunikasi dengan manusia lain, baik
yang beragama Islam, maupun yang non-Islam. Terhadap orang-orang yang
non-Islam, umat Islam perlu senantiasa berbuat baik. Sedangkan terhadap sesama
muslim yang diikat oleh tali keimanan yang sama, umat Islam harus bersaudara, sehingga kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama
saudara seiman.Untuk menumbuhkan sikap persaudaraan, kita diwajibkan mampu
mengontrol diri, berprasangka baik (husnuzzan), dilarang berprasangka buruk
(su'uzzan), dan dilarang menggunjing (gibah), agar tercipta hubungan yang
harmonis antar umat beragama.
Selain sikap persaudaraan, kita juga
harus mengembangkan sikap ihsan sebagai bentuk implementasi kontrol diri
sehingga kita dapat bersikap dan menyadari bahwa semua tindakan yang dilakukan
selalu diawasi Allah swt. Perilaku atau akhlak manusia akan menentukan harkat
dan martabatnya di dalam kehidupan sehari-hari.
B. Saran
Sebagai umat islam, kita harus terus meningkatkan keimanan, salah satu cara
meningkatkan keimanan kita dengan cara mengontrol diri, berprasangka baik, dan
mempererat persaudaraan kesesama umat beragama, serta menjauhkan diri dari
berburuk sangka dan menciptakan perpecahan. Semakin kuat tingkat keimanan, maka
kontrol diri, prasangka baik dan persaudaraannya juga semakin kuat. Sebaliknya
, keimanan umat islam yang lemah, sangat berkaitan terhadap tingkat kontrol
diri, prasangka baik dan persaudaraan juga menjadi lemah. Oleh karena itu umat
islam harus terus meningkatkan keimanan. Karena keimanan berbanding lurus
dengan amal kehidupan.
15




No comments:
Post a Comment